Walaupun harga tembakau pada tahun ini lebih mahal dari pada tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap tetap tidak setimpal dengan kerugian yang diderita para petani sebagai akibat cuaca yang tidak menentu. Tembakau rajangan yang tidak sempurna dalam proses pengolahan pasca panen berharga sangat murah berkisar antara Rp 7.000 sd Rp 9000 bergantung tingkat kecerahan warna setelah dijemur. Tanaman tembakau merupakan tanaman yang membutuhkan perawatan ekstra sejak awal tanam sampai pengolahan pasca panen. Di awal musim tembakau ini yaiut pada petengahan bulan juni, ternyata curah hujan masih sangat tinggi, hal ini mengakibatkan bibit tembakau yang telah ditanam mati, situasi ini jelas membuat petani tembakau semakin merugi apalagi saat musim panen curah hujan juga masih tinggi.
Dalam situasi seperti ini, petani tembakau sendiri terutama di daerah probolinggo tidak dapat berbuat banyak, kerugian ini akan terus terjadi jika cuaca tetap tidak menentu sampai pertengahan bulan oktober mendatang. Tidak itu saja, gudang milik pabrik-pabrik rokok yang ada di wilayah probolinggo seringkali menolak tembakau rajangan yang rusak karena hujan atau mereka akan membelinya tapi dengan harga yang sangat murah yang jelas akan sangat merugikan petani. Dalam situasi seperti, seharusnya peran asosiasi petani dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk memberikan intervensi agar petani tembakau tidak terlampau merugi. Sampai sejauh ini, belum ada indikasi petani tembakau akan mendapatkan konpensasi dari kerugian mereka ini, pemerintah kabupaten Probolinggo sebenarnya memiliki cukup kekuatan mempengaruhi kebijakan harga tembakau pada tahun ini, mengingat pasokan tembakau probolinggo tidaklah bisa dibilang sedikit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar